~{ NASEHAT ATAU HINAAN }~
Pada
umumnya manusia tidak suka ditegur atau disalahkan, apalagi kalau
teguran itu disampaikan kepadanya dengan cara yang tidak baik.
Maka pemberi nasehat haruslah tau cara menyampaikan nasehatnya agar bisa diterima.
Di antara cara menasehati yang baik adalah memberi nasehat dg secara rahasia, tanpa diketahui oleh orang lain.
Al-Imam Ibnu Hibban Rohimahulloh berkata:
"Nasehat
itu merupakan kewajiban manusia semuanya, tapi cara penyampaiannya
haruslah dengan secara rahasia, karna barang siapa yang menasehati
saudaranya di hadapan orang lain, berarti ia telah mencelanya, dan
barangsiapa yang menasehatinya secara rahasia, berarti dia telah
memperbaikinya.
Lalu Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan, ia berkata:
"Saya berkata kepada Mis'ar, "Apakah engkau suka apabila ada orang lain memberitahumu tentang kekurangan²mu?"
Maka ia berkata, "bila yang datang adalah orang yang memberitahukan kekurangan²ku dengan cara menjelek²anku maka aku tak suka, tapi bila yang datang padaku adalah seorang pemberi nasehat, maka aku suka."
Lalu
Imam Ibnu Hibban berkata bahwa Muhammad bin Said Al-Qazzaz telah
memberitahukan pada kami, Muhammad bin Manshur telah menceritakan pada
kami, Ali Ibnul Madini telah menceritakan padaku, dari Sufyan, ia
berkata:
"Tholhah datang menemui Abdul Jabbar
bin Wail, dan di situ banyak terdapat orang, maka ia berbicara dengan
Abdul Jabbar menyampaikan sesuatu dengan rahasia, kemudian setelah itu
beliau pergi". Maka Abdul Jabbar bin Wail berkata, "Apakah kalian tau
apa yang ia katakan tadi padaku? Ia berkata, 'Saya melihatmu ketika kamu
sholat kemarin sempat melirik ke arah lain'."
Abu Hatim (Imam Ibnu Hibban) Rohimahulloh berkata :
"Nasehat
bila dilaksanakan seperti apa yg telah kami sebutkan, akan
melanggengkan kasih sayang, dan menyebabkan terealisasinya hak ukhuwah."
(Sumber Roudhotul 'Uqola wa Nuzhatul Fudhola)
Al Imam Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said Ibnu Hazm rahimahullah berkata:
"Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberi nasehat, baik yang diberi nasehat itu suka atau tidak, tersinggung atau tidak.
Bila kamu memberi nasehat, maka nasehatilah secara rahasia, jangan di depan orang lain, dan cukup dengan memberi isyarat tanpa terus terang secara lansung, kecuali bila orang yang dinasehati tidak memahami isyaratmu, maka harus secara terus terang, jika kamu melampaui adab-adab tadi, maka kamu adalah orang yang zalim, bukan pemberi nasehat, dan gila ketaatan serta gila kekuasaan, bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukhuwah."
(Sumber Al Akhlak wa As Siyar fi Mudaawaati An Nufus)
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:"Al Fudhail berkata :
"Seorang
mu'min menutup (aib saudaranya) dan menasehatinya sedangkan seorang
fajir (pelaku maksiat) membocorkan (aib saudaranya) dan memburuk²annya."
Yang
disebut oleh Al Fudhail ini adalah perbedaan antara nasehat dan
memburuk-burukkan, bahwa nasehat itu dgn secara rahasia, sedangkan
menjelek²an itu ditandai dengan penyiaran, sebagaimana dikatakan,
"Barangsiapa mengingatkan saudaranya di tengah² orang banyak, maka ia telah menjelek-jelekkannya."
Alloh berfirman :
"Sesungguhnya
orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan keji itu tersiar di
kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia
dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui."
(Surat An-Nuur: 19)
Ada sebuah syair yang dinisbahkan kepada Imam Syafi'i rohimahulloh Syair itu berbunyi :
"Hendaklah
kamu sengaja mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirian
hindarilah memberikan nasehat kepadaku di tengah khalayak ramai karena
sesungguhnya memberi nasehat dihadapan banyak orang sama saja dengan
memburuk-burukkan, aku tidak suka mendengarnya jika engkau menyalahiku
dan tidak mengikuti ucapanku maka jangan heran bila nasehatmu tidak
diikuti."
(Sumber Diwan Asy Syafi'i)
Wallohu A'lamu Bis-Syowab......

